(Bukan) Tips & Trik Mendapatkan Beasiswa ke Luar Negeri

Sebelum saya akhirnya mendapatkan beasiswa ke luar negeri, saya sendiri sering mencari di internet mengenai tips dan trik agar bisa mendapatkan beasiswa. Saya berusaha dengan patuh mengikuti tips dan trik yang dicantumkan dan berharap untuk mendapatkan beasiswa. Sampai akhirnya saya gagal beberapa kali (setidaknya sudah 5 kali) dalam mendapatkan beasiswa, saya mulai mempertanyakan kesahihan tips dan trik yang bertebaran di internet. Sekarang, ketika saya sudah mendapatkan beasiswa, ada beberapa hal yang saya pelajari dari kegagalan-kegagalan itu.

Seleksi Beasiswa Adalah Misteri Ilahi

Seperti rezeki, jodoh, dan maut yang hanya Tuhan yang tahu, seleksi beasiswa juga hanya sang penyelenggara beasiswa dan Tuhan yang tahu. Jadi, apabila gagal ketika seleksi beasiswa, bukan berarti seseorang itu tidak pantas untuk mendapatkan beasiswa, namun bisa jadi orang tersebut tidak masuk kriteria penyelenggara beasiswa. Menurut pengalaman saya, ada beasiswa yang menitikberatkan pada kegiatan sosial, pengalaman profesional, pencapaian akademis, hingga kesesuaian pekerjaan dengan tujuan-tujuan PBB. Hanya dengan membaca persyaratan pendaftaran biasanya sudah bisa ditebak orang seperti apa yang diinginkan oleh pemberi beasiswa. Ada dua hal yang bisa dilakukan apabila gagal dalam mendapatkan beasiswa yang diinginkan. Pertama, berusaha memperbaiki diri agar bisa masuk kriteria penyedia beasiswa lalu daftar lagi di gelombang selanjutnya, dan kedua, daftar beasiswa lain.

Daftar Beasiswa Sebanyak-banyaknya

Kembali lagi ke sifat beasiswa yang misterius. Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba. Saya tidak menyalahkan orang yang fanatik terhadap beasiswa tertentu dan hanya menggebu-gebu untuk mendapatkan satu jenis beasiswa. Tetapi akan lebih baik kalau mencoba setiap kesempatan yang ada. Bagaimana bisa tahu ada beasiswa apa saja yang membuka pendaftaran? Mudah saja. Cari di internet. Informasi beasiswa sekarang sudah begitu lengkap. Dalam kasus saya, saya ingin untuk melanjutkan sekolah di bidang kelautan, maka saya mencari negara-negara yang memiliki laut dan mencari beasiswa yang ada di negara itu untuk orang asing. Saya juga harus memastikan bahwa orang Indonesia boleh mendaftar. Saya beruntung tinggal di negara berkembang seperti Indonesia, karena peluang beasiswa terbuka lebar bagi warga negara berkembang.

Pastikan Kriteria Awal Terpenuhi

Hal ini kadang dilewatkan oleh beberapa orang. Setiap seleksi beasiswa pasti memberikan persyaratan awal bagi pendaftar. Apabila syarat awal ini tidak terpenuhi, maka berkas aplikasi akan langsung disingkirkan oleh panitia seleksi. Memang ada yang iseng-iseng berhadiah hingga berhasil mendapatkan beasiswa walaupun ada persyaratan yang tidak terpenuhi. Boleh saja jika mau begitu. Tetapi saya pribadi lebih baik fokus untuk mempersiapkan persyaratan beasiswa yang kriteria awalnya sudah saya penuhi. Karena butuh usaha ekstra untuk sekedar melengkapi persyaratan pendaftaran. Tidak hanya dokumen-dokumen pendukung seperti ijazah dan transkrip, tetapi juga essay-essay yang bisa jadi jumlahnya banyak. Belum lagi persyaratan berupa referensi atasan/dosen. Sayang sekali kalau sudah repot menyiapkan banyak sekali dokumen untuk kemudian disingkirkan oleh panitia seleksi hanya karena kriteria awal yang tak terpenuhi. Umumnya, yang sering menjadi ganjalan adalah batas minimum nilai bahasa asing. Percayalah, panitia seleksi memberikan batas minimum bahasa asing adalah untuk kebaikan pendaftar juga, karena pada akhirnya bahasa asing itu akan digunakan dalam proses perkuliahan. Apabila nilai bahasa asing belum mencukupi, lebih baik belajar lagi agar bisa memenuhi kriteria pendaftaran beasiswa. Toh, bahasa tersebut juga akan digunakan sehari-hari apabila jadi kuliah di luar negeri.

Pasrah dan Evaluasi Ulang

Apabila sudah melakukan yang terbaik tetapi masih belum juga mendapatkan beasiswa, mungkin memang belum rejeki. Atau mungkin, niatnya perlu dievaluasi lagi. Apakah memang benar-benar ingin melanjutkan sekolah atau hanya ingin jalan-jalannya saja? Atau mungkin masih ada yang belum rela jika ditinggal pergi ke luar negeri? Percaya tidak percaya, inilah yang terjadi pada saya. Setelah berkali-kali gagal dalam memperoleh beasiswa, saya akhirnya bicara dengan ibu saya. Dan, ternyata benar, beliau masih agak berat melepas saya untuk bersekolah ke luar negeri. Ketika saya bilang kalau jalan saya pasti akan terhambat jika beliau tidak ikhlas, beliau akhirnya mengerti. Anehnya, tidak lama setelah itu, pengumuman beasiswa keluar dan saya akhirnya mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Jika semua sudah dilakukan dan masih belum juga mendapatkan beasiswa, mungkin memang belum waktunya saja. Saya mengenal banyak orang yang bertahun-tahun gagal dalam mendapatkan beasiswa namun tidak menyerah sampai akhirnya mendapatkannya. Saya percaya, akan ada jalan bagi yang memang bersungguh-sungguh dalam berusaha.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s