Banyak Jalan Menuju Southampton

Ketika saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah S2 tahun lalu, entah kenapa pilihan saya langsung jatuh kepada University of Southampton. Mungkin karena sebelumnya saya pernah mengikuti kelas online yang diadakan oleh University of Southampton mengenai laut dan kelas itu pulalah yang membuat saya bersemangat untuk melanjutkan sekolah. Kemudian saya mengunjungi situs web universitas dan membaca silabus serta mata kuliah yang ditawarkan. Selain itu, pusat oseanografi di Inggris Raya juga terletak di Southampton dan berafiliasi dengan University of Southampton. Saya jadi semakin ingin untuk mendaftar. Sayangnya, saya tidak punya uang. Maka, saya harus cari beasiswa.

Beasiswa pertama yang saya daftar adalah beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), yang sangat terkenal seantero negeri. Semua orang Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan beasiswa pasti tahu soal Beasiswa LPDP. Saya juga mendaftar beasiswa tersebut sambil mendaftar di University of Southampton. Harapan saya, ketika saya mendapatkan beasiswa, Letter of Acceptance dari universitas juga sudah terjamin.

Semuanya terasa berjalan lancar. Saya lolos tahap seleksi dokumen dan seleksi online. Saya tinggal menunggu datangnya seleksi terakhir yang terdiri dari wawancara, Leaderless Group Discussion, serta tes essay. Disaat menunggu itu, datanglah email dari University of Southampton yang menyatakan saya diterima di program Master of Science Oceanography. Tentu saja saya bahagia, semua rencana saya berjalan begitu mulus. Dan, saya sudah membayangkan akan bersekolah di Inggris dengan beasiswa LPDP.

Namun sayangnya, saya gagal di seleksi wawancara. Walaupun saya kecewa, saya tidak membiarkan diri saya larut dalam kesedihan. Saya menjadi lebih rajin untuk mencari informasi beasiswa. Saya bahkan tidak lagi terpaku pada University of Southampton. Saya membuka peta dunia dan mencari beasiswa dari setiap negara yang memiliki laut. Bahkan, saya memutuskan untuk mendaftar sekolah di Jerman tanpa beasiswa, karena sekolah di Jerman gratis. Saya hanya menyiapkan dana untuk hidup di sana. Walaupun sebenarnya tabungan saya tidak cukup banyak, tetapi saya yakin saya bisa hidup di sana. I’ll find out how later.

Bisa dibilang saya menjadi begitu kalap dalam mendaftar beasiswa. Saya mendaftar beasiswa Chevening dari Pemerintah Inggris, Swedish Institute dari Swedia, VLIR-UOS dari Belgia, Beasiswa dari University of Gothenburg, Erasmus Plus dari Uni Eropa, serta beasiswa Fulbright dari Amerika Serikat. Dan semuanya memiliki tenggat waktu yang hampir bersamaan. Saya menyiapkan semua persyaratan dalam waktu yang bersamaan pula. Saya sampai jadi sungkan terhadap atasan saya serta dosen saya di kampus yang berkali-kali saya mintai tolong untuk memberikan referensi. Posisi saya yang sedang bekerja purnawaktu saat itu membuat saya sering minta izin ke atasan untuk mampir ke kampus tempat saya kuliah S1 dan bertemu dengan dosen saya. Untung saja, saya tinggal di kota yang sama dengan kampus dan kantor tempat saya bekerja. Jadi, perjalanan bolak-balik yang dilakukan masih masuk akal.

Walaupun saya mendaftarkan diri untuk semua beasiswa itu, saya masih berharap banyak untuk bisa mendapatkan beasiswa Chevening yang akan menjadi jalan terakhir saya untuk membiayai perkuliahan saya di University of Southampton. Ketika saya menerima sebuah email dari Chevening mengenai status aplikasi saya, semua harapan itu hilang sudah. Saya bahkan tidak lolos tahap seleksi dokumen. Saya kira, dengan melampirkan Letter of Acceptance dari University of Southampton akan memudahkan jalan saya untuk mendapatkan beasiswa. Ternyata saya salah.

Terkadang, kau harus mengevaluasi ulang mimpimu. Mungkin, ada jalan lain yang bisa kau tempuh. Dan, itulah yang saya lakukan. Mimpi saya yang awalnya adalah berkuliah jurusan ilmu kelautan di University of Southampton, berubah menjadi berkuliah jurusan ilmu kelautan di luar negeri. Maka itu saya mendaftarkan diri di mana saja dengan beasiswa apa saja, berharap salah satu dari mereka adalah rejeki saya. Memang, rejeki tidak akan kemana. Tetapi, kalau tidak diusahakan juga tidak akan datang pada kita.

Sampai kemudian Uni Eropa merilis daftar program EMJMD (Erasmus Mundus Joint Master Degree) yang disertai dengan beasiswa Erasmus Plus. Saya dengan teliti memilah-milah program yang berkaitan dengan ilmu kelautan dan saya menemukan program MER+ dari MER (Marine Environment) Consortium. Tentu saja, saya langsung mendaftar. Saat itu saya belum memperhatikan universitas apa saja yang tergabung dalam konsorsium MER, yang penting daftar dulu. Setelah saya membaca langkah-langkah pendaftaran, akhirnya saya menemukan nama universitas-universitas yang tergabung dalam konsorsium. Sebagai koordinator, UPV/EHU (University of Basque Country), dengan anggota University of Bordeaux Prancis, University of Liège Belgia, dan University of Southampton Inggris. Benar. Saya bertemu lagi dengan University of Southampton. Walaupun untuk kali ini, saya tidak lagi terlalu menggebu untuk bisa berkuliah di sana.

Program EMJMD dijalankan oleh gabungan beberapa universitas yang disebut konsorsium. Mahasiswa yang mengikuti program tersebut akan menjalankan perkuliahan berpindah-pindah di negara-negara konsorsium. Di dalam MER consortium ada empat negara berbeda, dengan pilihan berkuliah di tiga negara berbeda. Awalnya, saya memilih untuk berkuliah di Prancis, Spanyol, dan Belgia saja. Namun, ketika mengisi rencana perkuliahan, mata kuliah yang saya inginkan kebanyakan ada di University of Southampton, maka akhirnya pilihan saya berubah menjadi University of Bordeaux – UPV/EHU – University of Southampton. Saya tidak berekspektasi apa pun saat itu. Jujur saja, saya bahkan sangat tidak yakin ketika mendaftar. Beberapa kali saya mengirim email ke sekretariat konsorsium karena pemberi referensi saya tidak menerima tautan untuk mengisi referensi. Atau, pemberi referensi saya sudah mengirim referensi tetapi belum diterima pihak konsorsium. Saya sampai bolak-balik ke kampus menemui dosen saya demi referensi yang tidak bisa terkirim. Kemudian ada lagi satu masalah ketika saya harus mengunggah surat pernyataan, tombol “save” nya tidak berfungsi dan saya akhirnya mengirim email lagi ke konsorsium untuk menyertakan surat tersebut ke dalam aplikasi saya. Untungnya, pihak konsorsium sangat responsif dalam menanggapi masalah saya. Bisa jadi mereka menganggap bahwa saya ini adalah pendaftar paling cerewet dari seluruh penerimaan mahasiswa baru yang mereka pernah lakukan.

Pendaftaran sudah saya lakukan. Beberapa minggu setelah tenggat waktu, saya mendapatkan kabar bahwa saya termasuk dalam pendaftar yang diterima bersyarat (conditionally accepted) di dalam program tersebut. Saya merasa senang, walaupun saya berusaha menahan diri karena seleksi selanjutnya adalah seleksi beasiswa. Tanpa beasiswa, saya tidak mampu membayar biaya pendidikan yang jumlahnya tidak sedikit.

Beberapa minggu kemudian, pada hari Sabtu dini hari, saya terbangun di tengah malam. Seperti umumnya manusia di masa ini, ketika mata terbuka hal yang pertama dilakukan adalah membuka ponsel. Saya pun refleks mengambil ponsel dan memeriksa kotak masuk email saya. Ada email dari MER consortium dan saya sudah menyiapkan diri saya untuk menerima kegagalan yang kesekian kali.

Apa yang saya baca di dalam email tersebut membuat saya tidak bisa tidur. Saya mendapatkan ucapan selamat karena telah masuk ke dalam daftar penerima beasiswa Erasmus Plus dalam program MSc Marine Environment yang diselenggarakan oleh MER Consortium. Saya langsung masuk ke dalam laman aplikasi saya dan mengunduh daftar penerima beasiswa. Dan benar saja, nama saya ada disana bersama dengan 22 orang lain sebagai penerima beasiswa. Saya tidak percaya.

Baru ketika pagi menjelang dan pikiran saya tidak lagi berkabut karena kantuk, saya menyadari bahwa dengan mengkuti program MER plus, berarti saya akan berkuliah selama satu semester di University of Southampton tahun depan. Saya tidak menyangka bahwa saya akan benar-benar berkuliah di University of Southampton, walaupun dengan cara yang berbeda. Hal ini membuat saya tersadar bahwa ternyata, banyak jalan menuju Southampton.

 

Surabaya, 11 April 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s