Human Being is Indeed Fascinating!

(Lanjutan dari Singapura dengan Jalan Kaki)

Salah satu tujuanku kembali ke Singapura adalah melihat dengan mata kepala sendiri lambang negara yang berupa makhluk setengah singa dan setengah ikan, yang disebut Merlion. Sebenarnya aku sudah melihat patung serupa dengan ukuran jauh lebih besar di Pulau Sentosa, namun dia tidak mengeluarkan air dari mulutnya. Ketika akhirnya kami dibawa ke Merlion Park, aku merasa begitu terharu. Terharu karena ukurannya yang mungil dan bisa mengeluarkan air.

I saw another Merlion in Sentosa yesterday, way bigger than this,” kataku kepada Justin sambil membentangkan kedua lenganku, menggambarkan besarnya Merlion yang kutemui di Pulau Sentosa, dengan tetap memandangi Merlion yang terus mengeluarkan air. Banyak turis dan warga lokal yang berkerumun di bawahnya. Ah, iya, ini hari Minggu, pantas saja begitu ramai.

Yeah, it’s bigger,” komentarnya sambil memandangi Merlion. Kami berdua saling bercakap tanpa saling melihat lawan bicara.

But there’s no water coming out of the mouth of Sentosa’s Merlion,” aku berkata tanpa mengalihkan pandanganku. Kemudian, aku merasakan pandangan Justin mengarah padaku dengan begitu lambat. Aku pun mengalihkan pandanganku kepadanya dan melihat ekspresi wajahnya yang heran. Aku jadi ikut heran, apa ada yang salah dengan kata-kataku.

The one in Sentosa is huge. If there’s water coming out of its mouth can you imagine how big it will be?” Tanyanya dengan mimik muka serius.

Oh. Oh! Aku akhirnya sadar. Patung Merlion yang ada di Pulau Sentosa besarnya berkali-kali lipat dari Merlion yang ada di sini. Kalau Merlion yang ada di Pulau Sentosa juga bisa mengeluarkan air, alirannya mungkin akan sederas air terjun.

“I never thought of that! It must be as big as a waterfall!” Seruku sambil tergelak. Dia juga tertawa mendengar kepolosanku barusan.

You know what else is interesting?” Aku berkata kepada Justin ketika rombongan kami beranjak menuju tempat berikutnya. Dia hanya memandangku heran.

That they decided to put lion’s head on a fish’s tail. What if they decided to put a fish’s head on a lion’s body? That would be weird,” kataku dengan ekspresi serius. Aku membahas mengenai sejarah Merlion yang baru saja dia ceritakan, ketika penemu Singapura melihat hewan semacam singa ketika sampai di Singapura. Yang kemudian digabungkan dengan ikan karena Singapura dulunya adalah desa nelayan.

Yeah, that would be weird,” jawabnya sambil menganggukkan kepala, kemudian kembali tergelak. Entah dia tergelak karena leluconku yang aneh atau dia benar-benar membayangkan apabila Merlion adalah makhluk berkepala ikan dan berbadan singa.

Tempat-tempat yang lain dilewati dengan cukup cepat agar kami tidak terlalu sore sampai di titik pemberhentian terakhir. Untungnya, cuaca Singapura hari itu cukup mendung, walaupun masih tetap gerah bagiku. Setidaknya kami tidak diserang dengan panas matahari tropis yang terik. Sesampainya di tempat terakhir, pendamping kami mengumumkan bahwa kami bisa menuju ke stasiun MRT Bugis yang ada di dekat situ atau ikut dengan mereka untuk makan malam. Sebagian orang berpisah untuk kembali ke tempat mereka menginap atau melanjutkan perjalanan, sedangkan sisanya bisa ikut makan malam dengan para pendamping. Aku dan adikku tidak memiliki tujuan lain, dan hari masih terlalu pagi untuk kembali ke hostel. Maka kami bergabung dengan rombongan makan malam.

Lagi-lagi kami digiring menuju tempat yang kami tidak ketahui. Jumlah orang yang ikut semakin sedikit dan mereka juga tidak tahu mau dibawa kemana. Kami serombongan anak bebek yang mengikuti induk bebek dengan patuh tanpa protes.

Ternyata kami dibawa ke sebuah warung makan yang menyediakan nasi ayam Hainan, makanan nasional Negara Singapura, serta makanan khas Tiongkok lainnya. Buru-buru aku mendekati Justin dan menanyakan apakah mereka menyediakan babi, karena aku dan adikku tidak makan babi. Justin menanyakan kepada pemilik warung dengan Bahasa Mandarin dan setelah menangkap jawaban dari pemilik warung, ekspresi wajahnya berubah mendung. Sebagai tanda permintaan maafnya, dia mengajakku dan adikku ke warung sebelah, yang menyediakan tahua serta jajanan khas Tiongkok seperti cakue dan eggtart. Ketika aku tahu ada eggtart, seketika itulah aku jatuh cinta. Eggtart jauh lebih baik daripada nasi ayam. Maka aku membeli tahua dan eggtart sebagai camilan. Kami kembali ke warung sebelumnya dan bergabung dengan anggota rombongan yang lain, yang sedang menunggu pesanan mereka.

Aku perhatikan, anggota rombongan kami menyusut dengan ekstrim. Kini, selain empat orang pendamping (satu orang menunjukkan jalan menuju stasiun MRT ketika tur dibubarkan), hanya ada dua orang Indonesia kakak beradik, dua perempuan Polandia, satu perempuan Amerika, satu laki-laki Rusia dan satu laki-laki Perancis yang duduk berhimpit-himpitan mengelilingi dua buah meja bundar yang digabung membentuk meja besar berbentuk angka delapan. Percakapan antar manusia-manusia yang rata-rata baru kenal ini terasa sangat semarak, seperti kumpulan teman lama yang memang sedang berkumpul.

Salah satu dari perempuan Polandia itu menoleh kepadaku dan adikku, menanyakan apakah kami sudah pernah ke Pulau Bintan, mengingat hanya kami yang berasal dari Indonesia. Aku dan adikku hanya menggeleng, walaupun Pulau Bintan letaknya di Indonesia, tetapi aku belum pernah ke sana. Aku ingat, sebelumnya, salah satu anggota rombongan, si pria Perancis, bercerita bahwa dia pernah mengunjungi Bintan. Maka, aku pun menyarankan untuk menanyakan hal itu kepadanya. Mereka bertiga mendadak akrab. Si pria Perancis, dengan gaya khasnya, bercerita dengan begitu penuh semangat, menggerakkan tangannya kesana kemari sambil tertawa sesekali. Kedua lawan bicaranya juga ikut tertawa. Namun aku tidak terlalu menangkap pembicaraan mereka, jarak kami terlalu jauh.

Aku lebih tertarik berbincang dengan Shervinn dan Justin yang duduk lebih dekat denganku. Kami terlibat obrolan asyik mengenai kebudayaan kami masing-masing. Saat itulah aku menangkap sosok yang sedang meringkuk di antara pria Perancis dan Shervinn. Rupanya itu si pria Rusia, duduk meringkuk tanpa makan apa pun. Sesekali, dia hanya menyeruput minuman dalam botol yang ada di depannya.

You don’t eat?” Tanyaku padanya.

No, I have allergy. I’d rather eat at my dorm later.

Allergy? What kind of allergy?

Seafood.

Aku hanya manggut-manggut mendengar jawabannya. Aku paham betul soal alergi. Aku sendiri memiliki riwayat alergi, walau tidak gampang kambuh. Tetapi, sekalinya kambuh, bercak-bercak yang nampak seperti luka bakar bisa muncul di sekujur tubuhku. Kejadian kambuh terakhir adalah beberapa tahun lalu, ketika aku mulai bekerja di kantor yang sekarang. Awalnya hanya muncul sebuah bercak di tangan, seperti bekas digigit nyamuk. Kemudian bercak itu semakin banyak muncul dan perihnya bukan main. Bentuknya seperti luka bakar. Awalnya aku kira aku terkena serangan tomcat atau sejenisnya. Namun, setelah memeriksakan diri ke dokter, akhirnya diketahui bahwa alergiku kambuh. Semenjak itu aku hidup merana karena pantang makan apa pun kecuali sayuran, tahu tempe serta daging sapi atau kambing.

Cerita soal alergiku membuat Justin dan Shervinn manggut-manggut. Tampak ekspresi mereka berempati terhadap penderitaanku. Untungnya masa itu sudah lewat, dan aku sekarang bebas makan apa saja. Karena posisi si pria Rusia berada di antara lawan bicaraku, dia juga berada di dalam jangkauan penglihatanku. Aku lihat si pria Rusia masih saja meringkuk dengan raut wajah yang serius. Aku khawatir dia sakit karena terlambat makan. Maka aku pun berinisiatif untk menanyakan keadaannya.

Are you okay? You don’t look well,” tanyaku cemas.

Surabaya! Do you know Surabaya?” Tiba-tiba badannya menegak dengan mata membulat jenaka. Wajahnya nampak merah dengan senyum yang begitu lebar.

What?” Aku terbelalak kaget dengan perubahan sikapnya yang begitu tiba-tiba. Butuh waktu hingga akhirnya aku mampu mencerna pertanyaanya. Dia menanyakan soal Surabaya.

Tentu saja aku tahu Surabaya. Aku lahir dan besar di sana. Kemudian dia bercerita bahwa salah satu temannya pernah tinggal di Surabaya selama beberapa lama untuk mengajar atau entah apa. Dia berusaha mengingat-ingat apa nama kota yang pernah dikunjungi oleh temannya itu. Dia hanya ingat bahwa kota yang dimaksud berawalan huruf ‘S’. Setelah akhirnya menemukan kata yang dimaksud, ekspresi wajahnya nampak lebih hangat dan dia akhirnya terlibat aktif dalam obrolan kami.

I thought you were unwell. You look kinda pale,” kataku akhirnya.

No. I was just thinking,” jawabnya dengan wajah datar. Orang ini memang tidak banyak berekspresi. Berbeda dengan pria Perancis di sampingnya yang luwes menggerakkan tangannya sambil bercerita.

About the name of the city where your friend had been?

Yes. I finally figure it out. It’s Surabaya.

I see.

Aku benar-benar heran. Sesuatu yang begitu sederhana seperti nama kota yang pernah ditinggali seorang teman bisa membuat seseorang begitu keras berpikir. Untungnya, dia segera menemukan nama kota yang dimaksud. Kalau tidak, bisa jadi ekspresi pucat seperti menahan sakitnya akan bertahan hingga kami berpisah. Well, human being is indeed fascinating!

Singapura, 22 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s