Singapura dengan Jalan Kaki

Aku menyeruput kuah bening dari mangkok di hadapanku. Manis. Aku mengangkat kedua alisku. Heran, biasanya kuah tahua itu berasa hangat agak pedas karena dicampur dengan jahe. Maka, aku menanyakan hal ini pada pria di sampingku.

It’s sweet. In my country, they put ginger in it,” komentarku sambil kembali menyeruput kuah tahua.

Really?” Mata almondnya membulat penuh dengan rasa ingin tahu. Justin namanya. Pria ini, asli Singapura dengan latar belakang etnis Tionghoa, begitu tertarik dengan cerita dari orang-orang dengan kebudayaan yang berbeda dengannya. Saat ini, kami sedang membahas soal tahua di Singapura yang berbeda dengan tahua yang ada di Indonesia. Sebelumnya, kami sudah membahas banyak hal selama berjalan-jalan menyusuri situs bersejarah di Singapura, mulai mitos dan cerita rakyat Tiongkok hingga lukisan mural di kawasan Bugis.

Aku merasa begitu beruntung bisa bergabung dengan tur jalan kaki gratis yang disebut dengan Singapore Footprints ini. Selain tidak dipungut biaya, aku bisa tahu banyak hal mengenai sejarah Singapura beserta cerita dari penduduk lokal. Ada lima orang mahasiswa yang memandu perjalanan kami yang dimulai dari Stasiun MRT Raffles Place hingga Bugis. Jika dilihat pada peta jalur MRT, perjalanan kami hanya melewati dua stasiun saja. Namun, apabila ditelusuri dengan jalan kaki ternyata capek juga, telapak kakiku sampai melepuh karena terlalu banyak berjalan kaki selama liburanku di Singapura.

Titik pertemuan berada depan Stasiun MRT Raffles Place. Aku berjalan cepat keluar dari gerbong MRT menuju pintu keluar karena khawatir tertinggal tur yang dimulai pukul setengah lima sore. Aku mengintip ponselku dan waktu sudah menunjukkan pukul empat dua puluh. Aku mempercepat langkahku, dan melihat adikku yang berjalan santai di belakangku, aku menariknya agar bergegas. Kami tidak boleh melewatkan tur ini.

Sambil terengah-engah, aku melihat beberapa orang yang sedang bergerombol mengelilingi beberapa orang berkaus kuning terang yang sedang menjelaskan sesuatu. Aku memberikan sinyal dengan tanganku yang menanyakan apakah aku bisa bergabung. Satu-satunya wanita yang berkaus kuning hanya mengangguk beberapa kali, mengisyaratkan bahwa aku boleh bergabung.

We’ll wait for five more minutes, then we can start,” pemimpin rombongan berkata sambil melihat jam tangannya. Aku akhirnya bisa menghela nafas lega. Aku dan adikku adalah orang terakhir yang bergabung dengan rombongan.

Pemimpin rombongan itu bernama Justin. Selain dia, ada satu orang perempuan bernama Shervinn dan dua orang pria, sang satu bernama Javier dan yang satunya aku lupa. Ada juga seorang perempuan berkaus hijau yang bertindak sebagai juru foto yang mendokumentasi perjalanan ini, yang aku tidak sempat tanyakan namanya.

Perjalanan dimulai dengan perkenalan singkat mengenai bagian Negara Singapura yang menjadi pusat perekonomian, yang ada di dekat Stasiun MRT Raffles Place ini. Aku memandang sekelilingku, penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, yang saking tingginya, sinar matahari bahkan tidak mencapai tempat aku berdiri kecuali apabila matahari benar-benar sedang berada di atas ubun-ubun. Sedikit saja matahari bergeser, sinarnya akan terhalang gedung-gedung super tinggi ini. Ternyata, beberapa gedung yang berada di sini adalah gedung tertinggi di Singapura, dengan tinggi sekitar 280 m dan jumlah lantai sebanyak 66 lantai. Aku membayangkan betapa kencang angin berhembus di antara gedung-gedung itu. Mungkin gedung-gedung itu memproduksi angin puyuhnya sendiri.

Setelah cukup pegal mendongak memandangi gedung-gedung pencakar langit itu, Justin menggiring kami menuju pinggir Singapore River. Dia menunjuk ke arah deretan rumah-rumah mungil bertingkat di kejauhan. Seperti di negara-negara lain di dunia, peradaban umumnya dibangun dimana akses transportasi yang paling mudah. Pada zaman dahulu kala, transportasi kebanyakan dilakukan lewat jalur air, misalnya sungai dan laut. Dan, Singapore River adalah sungai terpenting di Singapura karena langsung menuju laut. Kapal-kapal pedagang masuk dari Selat Singapura melalui Singapore River dan bersandar di sana, baru kemudian naik ke daratan Singapura untuk berbisnis. Dan, seperti umumnya manusia, mereka senang menunjukkan kekayaan mereka dengan membangun rumah dan mempercantiknya. Namun, karena lahan di Singapura sangat terbatas, memperluas rumah adalah hal tidak mungkin. Maka, rumah-rumah dipertinggi, dan siapa yang memiliki rumah paling tinggi adalah yang paling makmur.

Aku melihat rumah-rumah mungil itu dan benar kata Justin, lebar mereka sama, hanya tingginya saja yang berbeda-beda. Anehnya, budaya zaman lampau yang menunjukkan kemakmuran dengan seberapa tinggi rumah yang kau miliki ternyata masih dipertahankan sampai sekarang. Aku teringat gedung-gedung pencakar langit yang baru saja kulihat tadi. Mereka berlomba-lomba menjadi yang paling tinggi hanya untuk menunjukkan mana yang lebih kaya.

Perjalanan berlanjut menyusuri sungai dan mengarah ke sebuah gedung megah bergaya neoklasik dengan tulisan ‘The Fullerton Hotel’ terpampang besar di depannya. Kami semua masuk ke dalam lobi hotel mewah tersebut dan diberikan cerita mengenai sejarah gedung tersebut mulai dari awal pembangunannya hingga seperti sekarang. Aku sendiri tidak terlalu menangkap detailnya. Aku hanya ingat bahwa sebelum menjadi hotel seperti sekarang, Gedung Fullerton pernah menjadi gedung kesyahbandaran dan kantor pos pusat di masa sebelumnya.

Pandanganku menjelajahi bagian lobi hotel ini. Dari luar, The Fullerton Hotel memang nampak sebagai warisan zaman dahulu, karena tidak ada perubahan desain di bagian luarnya. Namun, interiornya nampak lebih modern dengan sebuah kolam ikan koi yang cukup besar berada di tengah-tengah.

Justin kembali menggiring kami menuju kolam ikan koi tersebut. Aku setengah berlari menjajari langkahnya yang begitu cepat.

Uh… I think you’re too fast,” kataku.

The talking or the walking?” Tanyanya sambil mengurangi kecepatan jalannya.

A little bit of both, I guess. But I think it’s better if you walk a little bit slower,” aku menyarankan agar dia berjalan lebih lambat. Dia melihat sekilas ke belakang melalui pundaknya dan sedikit mengurangi kecepatannya. Mungkin dia sadar bahwa rombongan yang digiringnya sebagian masih berada jauh di belakang.

Sesampainya kami di dekat kolam ikan, kami dipersilakan istirahat sebentar atau ke toilet. Sebagian anggota rombongan yang tidak ke toilet berkerumun di dekat para pendamping berkaus kuning untuk mendengarkan cerita mengenai ikan koi dan budaya Tionghoa.

Hari raya Imlek tinggal satu minggu lagi, maka dekorasi hotel ini pun kental dengan budaya Tionghoa. Semuanya berwarna merah, emas, dan gambar ayam berada dimana-mana. Wajar saja, mengingat tahun yang akan datang adalah tahun ayam.

Aku merasa begitu familiar dengan cerita-cerita mereka. Walaupun aku sendiri tidak memiliki darah Tionghoa, namun budaya Tionghoa peranakan di Indonesia begitu umum ditemui. Sebagian besar cerita yang mereka sampaikan mengenai tradisi menyambut tahun baru juga tidak terdengar asing bagiku.

Setelah semua peserta rombongan kembali berkumpul, kami berjalan keluar dari hotel dan kembali mendekati Singapore River. Aku sempat menanyakan mengenai lobi The Fullerton Hotel yang baru saja kami kunjungi, apakah memang terbuka untuk umum atau bisa dikunjungi hanya karena kami bagian dari tur ini. Ternyata, siapa pun boleh memasuki lobi hotel ini walaupun tidak menginap, karena gedung tersebut merupakan bagian dari warisan budaya dan di salah satu sudutnya terdapat beberapa foto lama yang menunjukkan sejarah gedung dari waktu ke waktu.

Setelah keluar dari The Fullerton Hotel, kami menuju Cavenagh Bridge, salah satu jembatan gantung tertua di Singapura. Tidak ada kendaraan yang diperbolehkan melewati jembatan ini, kecuali sepeda dan pejalan kaki, mengingat usianya yang sangat tua. Kami bahkan mencoba untuk melompat-lompat di atas jembatan dan merasakan getarannya. Untungnya, jembatan ini masih aman walaupun kami melompat bersamaan.

Banyak tempat yang dilewati dikombinasikan dengan aku yang buta arah membuatku tidak paham kemana para pendamping berkaus kuning ini membawa kami. Beberapa anggota rombongan lain yang aku tanya pun hanya menggeleng sambil tersenyum ketika aku tanya kemana rute selanjutnya. Maka kami hanya berjalan patuh mengikuti para pendamping.

Seingatku, beberapa tempat bersejarah yang kami lewati selanjutnya adalah Merlion Park, Asian Civilization Museum, War Memorial Park, National Gallery Singapore, St Andrew’s Cathedral, Fort Canning Park, Peranakan Museum, Armenian Apostolic Church, Singapore Art Museum dan perjalanan berakhir di daerah Bugis, di sekitar Sri Krishnan Temple dan Kwan Im Temple.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s