Singapura di Musim Hujan (3)

Hari-2: Sabtu, 21 Januari 2017

Tempat yang dikunjungi: Singapore Art Museum, Masjid Sultan, Gardens by the Bay

Geliat kehidupan di Singapura umumnya dimulai pada pukul sepuluh. Toko-toko dan tempat wisata, termasuk dengan Singapore Art Museum yang akan saya kunjungi hari ini, juga buka pukul sepuluh. Jadi, sekitar pukul delapan pagi, saya masih memakai baju tidur dan sarapan sambil duduk di depan hostel, menikmati suasana pagi.

Hari itu cukup cerah, dan gerah tentunya. Mungkin karena itulah hostel yang saya tempati meletakkan sebuah kipas angin besar yang diarahkan ke teras, karena saking stagnannya udara di sini. Sarapan hostel terdiri dari roti dan selai, serta sereal dan susu dingin, dilengkapi dengan teh atau kopi panas. Berhubung tempat ini adalah budget hostel, tidak ada yang membantu untuk menyiapkan sarapan, semua dilakukan sendiri, bahkan peralatan makan yang baru saja dipakai pun harus dicuci sendiri. Saya sepertinya orang pertama yang menuju dapur untuk sarapan, melihat tumpukan roti tawar dan hamparan selai yang ditempatkan dalam cup-cup kecil, dua jenis sereal: corn flakes dan chocolate rice crispies, sepoci air panas, deretan gula pasir dalam sachet kertas, serta teh celup dan kopi yang juga diletakkan dalam sachet. Di bawah meja ada kulkas mini yang berisi beberapa karton susu segar. Setelah menimbang-nimbang, maka saya putuskan saya akan sarapan sereal rice crispies dengan teh hangat. Merasa kurang nyaman makan di dapur, saya membawa sarapan saya ke teras hostel.

Di dalam bayangan saya, saya akan sarapan sambil melihat kesibukan pagi hari di Singapura. Namun saya salah besar. Race Course Road dimana Mori Hostel berada adalah jalan raya yang relatif sepi, sangat sepi malah. Hingga sarapan saya habis, mungkin hanya satu atau dua mobil yang melewati jalan ini. Saya hanya melongo saja, tidak ada yang bisa diperhatikan di sini.

Sekitar pukul sepuluh lebih, akhirnya saya dan adik saya siap untuk bertualang. Sebenarnya, tidak pernah terbersit keinginan untuk mengunjungi museum seni, bukan karena saya tidak suka museum atau seni, saya suka dua-duanya, hanya saja, museum seni bukan merupakan prioritas saya dalam mengunjungi suatu tempat baru. Museum sejarah lebih menarik bagi saya. Namun, saat ini, mengunjungi Singapore Art Museum adalah janji saya kepada adik saya agar dia mau menemani saya untuk pergi ke Singapura, dan janji haruslah ditepati.

Ternyata, saya beruntung sekali datang ke Singapore Art Museum saat sedang ada event Singapore Bienalle 2016 yang berlangsung dari 27 Oktober 2016 hingga 26 Februari 2017 dengan tema ‘Atlas of Mirrors’. Pameran ini menyuguhkan seni kontemporer karya seniman Asia Tenggara, Asia Timur dan Asia Selatan. Saya sendiri tidak begitu paham seni kontemporer, dan satu hal yang bisa saya simpulkan dari pameran ini adalah bahwa seni itu sifatnya sangat personal. Untung saja ketika saya datang, sedang ada tur yang dipandu oleh staf museum, yang membantu menceritakan masing-masing karya seni. Tanpa penjelasan, bisa-bisa saya terjebak pusaran seni yang menurut saya tidak masuk akal. Dengan adanya penjelasan, saya jadi paham perasaan yang dituangkan masing-masing seniman dalam karyanya.

Salah satu karya yang membuat saya benar-benar terpana adalah karya yang berjudul ‘Rubbish’, berupa replika sampah kemasan suatu produk yang dibuat dengan kertas dan pensil warna. Seniman asal Jepang bernama Kentaro Hiroki mereproduksi sampah kemasan dengan begitu detail dan teliti sehingga benar-benar menyerupai aslinya, hingga sobekan dan kerutannya. Pemandu museum bercerita, apabila ‘Rubbish’ beberapa kali tidak sengaja terbuang karena petugas kebersihan mengira karya seni itu benar-benar sampah. Kuratornya harus mengorek-ngorek tempat sampah untuk mendapatkannya kembali.

Karya seni yang dipamerkan begitu beragam, mulai dari patung, pahatan, lukisan dengan media bermacam-macam, audio-visual, hingga seni instalasi. Saya benar-benar ternganga melihat semua karya seni itu, beberapa saya paham maksudnya, sisanya saya hanya bisa mengerutkan dahi. Adik saya, nampak begitu menikmati kunjungannya di sini, dia memang punya latar belakang seni, karya seni adalah makanannya sehari-hari. Seringkali, dia manggut-manggut mendengar penjelasan staf museum mengenai masing-masing karya seni. Dan saya, hanya bisa mengedikkan bahu.

Tidak terasa, kami berkeliling hampir tiga jam lamanya. Menurut informasi, pameran ini juga diselanggarakan di sebuah gedung lain di dekatnya, yang disebut SAM at 8Q. Jaraknya hanya beberapa langkah dari gedung utama. Ketika kami merasa cukup berkeliling di gedung utama, kami berjalan menuju gedung tersebut. Langit mulai mendung. Semoga tidak hujan.

SAM at 8Q tidak sebesar gedung utama. Karya seni yang ditampilkan pun tidak sebanyak sebelumnya. Ketika kami asyik berpindah dari satu galeri ke galeri lain, hal yang paling saya takutkan akhirnya terjadi. Hujan turun begitu derasnya, dan kami terjebak di dalam gedung museum entah sampai kapan.

IMG_20170121_151135_1

Terjebak hujan deras di dalam SAM at 8Q

Salah satu hal yang paling saya tidak sukai adalah menunggu ketidakpastian. Bagaimana bisa berencana apabila saya tidak tahu kapan rencana itu akan dijalankan? Seperti saya dan adik saya saat ini, yang membunuh waktu sambil mengobrol di salah satu sudut gedung SAM at 8Q, menunggu hujan reda. Seharusnya setelah ini kami akan ke Gardens by The Bay, menonton festival musik sekaligus bertemu dengan teman saya. Namun hujan yang derasnya stabil membuat kami harus menunda petualangan.

Hari semakin sore dan hujan yang turun tidak sederas sebelumnya. Maka, kami bulatkan tekad untuk menerobos hujan. Saya memakai jas hujan plastik berwarna hijau transparan, sedangkan adik saya memakai jas hujan jenis yang sama namun berwarna merah. Karena badan saya yang kecil, jas hujan itu terlihat begitu besar dan saya nampak seperti kantong kresek sampah raksasa. Lain halnya dengan adik saya, baginya, jas hujan yang besarnya sama dengan yang saya pakai hanya sepanjang lututnya karena badannya yang tinggi kurus. Gumpalan kresek hijau dan kresek merah itu pun menerobos hujan menyusuri Victoria Street menuju Masjid Sultan.

Frekuensi hujan yang tak menentu membuat suasana hati saya memburuk. Terkadang, hujan hanya tinggal rintik-rintik, namun di saat yang lain hujan kembali deras. Apabila hujan semakin deras, kami terpaksa mencari tempat berteduh, karena walaupun kami memakai jas hujan, tetap saja tidak nyaman kalau harus menerjang hujan lebat. Sampai akhirnya kami sampai di depan pusat perbelanjaan Bugis+ (Bugis Plus). Saya teringat kalau kami belum makan siang, jadi kami melipat jas hujan kami dan masuk ke dalam mall yang saat itu penuhnya minta ampun. Wajar saja, saat itu hari Sabtu, dan sama seperti di Surabaya, mall di Singapura juga penuh di akhir minggu.

Kami bermanuver di antara orang-orang yang berjalan di dalam mall sambil mencari restoran yang sesuai dengan kantong dan lidah. Adik saya merindukan nasi, dan akhirnya kami melipir ke salah satu restoran ayam cepat saji khas Korea Selatan. Saya memesan bibimbap dengan porsi yang terlalu besar buat saya, adik saya memesan nasi dan sayap ayam, dan kami makan dengan brutal. Ada yang menarik di sini. Di Indonesia, biasanya restoran menyediakan tempat untuk cuci tangan, namun ketika saya makan di restoran cepat saji ini, saya celingak-celinguk mencari wastafel dan tidak menemukannya. Ternyata, mereka menyediakan tisu basah sebagai ganti air untuk cuci tangan.

Setelah perut kenyang dan hati bahagia, kami keluar dari mall dengan harapan hujan sudah reda dan kami bisa melenggang cantik menuju destinasi selanjutnya. Ternyata saya salah. Hujan masih turun dan terpaksa kami harus menjelma menjadi gumpalan kresek hijau dan merah kembali. Suasana hati saya jadi tidak sebaik sebelumnya. Yah, minimal saya sudah kenyang.

Tempat yang kami tuju selanjutnya adalah Masjid Sultan. Sebenarnya Malay Heritage Centre yang ada di dekat Masjid juga menjadi salah satu tujuan wisata kami. Namun, karena hari yang semakin beranjak sore, akhirnya Malay Heritage Centre dicoret dari daftar destinasi. Setelah beribadah di Masjid Sultan, perjalanan dilanjutkan ke Gardens by The Bay dengan MRT.

Sepertinya cuaca Singapura hari ini sangat mendukung apabila ingin bergelung di dalam selimut. Sayangnya, saya dan adik saya sedang rekreasi dan kami mengutuki hujan yang tidak berhenti turun hingga kami keluar dari stasiun MRT Bayfront, stasiun terdekat dengan Gardens by The Bay. Kami berjalan cepat dengan iringan suara tetes hujan yang mengenai jas hujan kami serta gemerisik gesekan plastik.

Ketika kami memasuki area Gardens by The Bay, mata saya langsung jelalatan mencari petunjuk arah The Meadow, area berumput yang menjadi lokasi St Jerome’s Laneway Festival, festival musik yang menjadi alasan utama saya nekat ke Singapura di tengah musim penghujan. Ternyata lokasinya tidak jauh, dan beberapa langkah saya berjalan, dentuman musik mulai terdengar. Kami segera mempercepat langkah dan mendekati area pintu masuk. Dengan yakin, saya menuju pintu masuk yang bertanda “Guests”. Saya tamu, saya diundang, maka saya seharusnya bisa melenggang dengan mudah ke dalam lokasi pertunjukan. Ternyata saya salah.

Dengan penuh percaya diri saya mendekati salah seorang panitia dan mengatakan kepadanya kalau saya termasuk dalam undangan Tycho, band yang dimanajeri Forrest, teman saya. Namun, nama saya tidak ada di dalam daftar tamu dan bahkan Tycho tidak menyerahkan daftar tamu kepada pihak panitia. Saya tetap bersikeras bahwa saya diundang dan meminta tolong kepada panitia untuk kroscek ke manajer Tycho. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya saya diperbolehkan masuk dengan diberikan gelang pink sebagai tiket masuknya.

IMG_20170121_203508

Stage utama St. Jerome’s Laneway Festival

Jujur saja, saya sendiri tidak mengenal satu pun band yang tampil di festival ini selain Tycho. Kebanyakan band yang tampil dalam festival ini adalah band indie dengan aliran electronic rock, pop, ambience, hip hop atau sejenisnya. Bahkan ada juga beberapa DJ yang tampil. Tycho sendiri beraliran instrumental electronic IDM, yang mengkombinasikan antara musik digital dan analog.

Seharusnya saya janjian untuk bertemu dengan Forrest sebelum Tycho tampil. Tetapi saya paham betul kalau dia sibuk, jadi saya tunggu dia sampai Tycho selesai tampil. Saya sedang bertengger di pagar batas antara panggung dan penonton sambil memperhatikan Forrest yang sedang berbenah, membereskan sisa-sisa pertunjukan Tycho, ketika dia akhirnya menyadari keberadaan saya dan melambaikan tangan dengan bersemangat. Saya membalas lambaian tangannya dengan tidak kalah semangatnya. Dia berjanji untuk menemui saya setelah selesai berbenah.

Kami bercakap-cakap sebentar diiringi dengan musik yang berdentum-dentum di dekat kami. Walaupun kami sudah berusaha menjauh dari panggung, kami harus berbicara dengan lantang agar suara kami tidak tenggelam oleh riuhnya konser. Untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu, kami mengobrol dengan begitu asyiknya, bercerita dan tertawa membahas apa saja. Hingga akhirnya dia mendapatkan panggilan untuk berkemas dan membawa peralatan band mereka kembali ke hotel. Dia menawari saya dan adik saya untuk menyusul ke hotelnya dan lanjut mengobrol.

Saya menimbang-nimbang, apakah saya akan menyusul ke hotel lalu lanjut mengobrol dengan resiko kami tidak bisa kembali ke hostel karena MRT akan berhenti beroperasi setelah pukul dua belas malam atau saya kembali saja ke hostel dengan konsekuensi pertemuan kami berakhir saat itu juga. Akhirnya saya coba mengutarakan maksud saya yang ingin lanjut mengobrol di hotel tempat dia menginap, namun saya butuh tempat menginap karena tanpa MRT saya tidak bisa kembali ke hostel. Jarak antara Gardens by The Bay dan hostel tempat saya dan adik saya menginap di kawasan Little India terlalu jauh apabila harus ditempuh dengan berjalan kaki. Taksi tidak menjadi pilihan karena tarifnya terlalu mahal untuk pejalan berdana terbatas seperti saya.

Diluar dugaan, teman saya menyambut dengan tangan terbuka. Dia mempersilakan saya dan adik saya ikut menginap bersamanya, toh dia juga sendirian di dalam kamar. Saya tidak pernah menyangka akan menginap di hotel bintang lima di negara semahal Singapura, yang harga satu kamarnya bisa mencapai empat juta rupiah per malam. Walaupun pada akhirnya saya dan adik tidur di lantai beralas karpet dengan beberapa bantal yang dilemparkan dengan bahagianya oleh Forrest. Selimut yang jumlahnya hanya satu ternyata bisa dikelupas dan menjadi dua, satu untuknya dan satu untuk saya dan adik.

Kami berbincang hingga kantuk menguasai kami dan kami menyerah dan tertidur. Dia tetap tidur di atas kasur, saya dan adik tidur di lantai. Sebenarnya, Forrest berkeras agar kami bertiga berbagi satu kasur. Tetapi saya juga tahu diri, saya hanya menumpang, tidak perlu mengganggu kenyamanan tidurnya. Lagipula, badannya tinggi besar, walaupun kasurnya berukuran double, bisa jadi masih kekecilan baginya.

Sebelum kami semua mengambil posisi ternyaman kami untuk tidur, dia sibuk menunjukkan kamar hotelnya kepada saya dan adik. Satu tempat yang dia tunjukkan dengan penuh semangat adalah kamar mandi. Dia terheran-heran dengan banyaknya shower yang ada di dalam kamar mandi. Satu buah shower berada tepat di atas kepala, memberikan efek seperti mandi hujan, satu buah shower yang bisa diambil dari gagangnya, yang umum ditemui, serta satu lagi shower yang agak rendah, ditujukan bagi yang suka mandi sambil duduk. Saya hanya tergelak ketika dia menjelaskan itu semua, ikut heran dengan banyaknya jenis shower di dalam kamar mandi mewah ini.

Setelah cukup menunjukkan kamar mandi hotel, dia kemudian bermain dengan tombol-tombol lampu, yang jumlahnya lebih banyak daripada shower di kamar mandi. Beberapa lampu bergantian padam dan menyala hingga akhirnya dia menemukan lampu yang sesuai. Ketika semua sudah pas, dia merebahkan dirinya di tempat tidur, sedangkan saya dan adik duduk di karpet, tenggelam di dalam timbunan bantal dan selimut yang dia lemparkan sebelumnya. Obrolan kami akhirnya berakhir ketika kami tidak kuat menahan kantuk dan terlelap. Hari kedua saya di Singapura ditutup dengan lagu berjudul The Old Days dari Dr. Dog yang mengalun dari ponsel teman saya.

Cerita lengkap: Rendezvous with a friend

Who is Tycho?

Who is Dr. Dog?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s