Rendezvous with a Friend

Why are you so nice?” Tanyaku sambil memandangi seorang pria tinggi berjambang yang sedang mondar-mandir di dekat jendela kamar hotelnya. Pria itu dengan langkah panjang-panjang menghampiri tas ranselnya yang jumlahnya ada tiga, berserakan di beberapa sudut ruangan. Dia sedang berkemas. Sedangkan aku, duduk berselonjor di lantai beralas karpet, bersandar pada tempat tidur, merasakan tekstur karpet yang menenangkan, memberi rasa nyaman.

Why can’t I be nice? Why can’t people be nice?” Dia balik bertanya. Dia mengangkat wajahnya sejenak sambil tersenyum kepadaku, lalu kembali sibuk mengemasi barangnya. Dari caranya berkemas, aku tahu dia bukan tipe orang yang rapi, ranselnya yang paling kecil menggembung maksimal, kalau misalnya ransel itu jebol, isinya bisa saja langsung berhamburan keluar.

Dia benar, mengapa manusia tidak boleh berbuat baik? Mungkin karena aku apatis terhadap manusia, jadi aku selalu curiga terhadap manusia yang baik kepadaku. Pria ini salah satunya. Aku rasa kita tidak begitu kenal satu sama lain, tetapi dia memperlakukanku seperti teman baik yang sudah lama tidak bertemu. Dia bahkan membiarkanku dan adikku untuk ikut menginap semalam di kamar hotel bintang lima yang ditempatinya.

Awal mula kami saling mengenal adalah karena perbuatanku yang dengan tidak tahu malunya mengirimkan email kepadanya. Jadi, entah bagaimana, aku menemukan alamat emailnya di internet dan memperkenalkan diriku kepadanya. Saat itu, dia adalah manajer tur dari band kesukaanku, Dr. Dog. Awalnya, aku tidak memiliki ekspektasi apa pun mengenai email yang kukirim akan dibalas atau tidak, karena sudah sering aku mengirim email kepada band-band yang aku sukai, dan hampir tidak ada yang membalasnya.

Diluar dugaan, dia membalas emailku. Dan sejak saat itu, kami sering bertukar cerita mengenai apapun. Hingga suatu hari, entah mendapat ide dari mana, aku minta tolong untuk dibelikan beanie Dr. Dog dan akan aku ganti biayanya. Namun ternyata, dia mengirimkan beanie itu tanpa meminta imbalan apa pun. Sebagai balasannya, aku mengirimkan sebuah kemeja batik kepadanya. Saat itu, aku kira interaksi kami sebatas pada percakapan virtual dan saling mengirim suvenir. Ternyata, takdir mempertemukan kami di sebuah negara asing yang sama-sama bukan negara asal kami.

Singapura. Tidak ada yang mengira, dia yang berasal dari Amerika Serikat dan aku yang berasal dari Indonesia akan berjumpa di Singapura. Mulanya, ketika aku mendengar bahwa band yang dimanajerinya akan ambil bagian di sebuah festival musik di Singapura, aku iseng bertanya apakah ada kemungkinan untuk kami bertemu di sana. Secara mengejutkan, dia malah menawarkan untuk memasukkanku sebagai bagian dari tamu Tycho, band yang sedang dimanajerinya. Artinya, aku bisa menonton festival musik tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeserpun, sedangkan harga tiket presale nya adalah SGD 148. Tentu saja aku langsung menerima tawaran itu. Siapa yang tidak tergoda dengan iming-iming tiket gratis?

Keputusan impulsif itulah yang akhirnya membawaku kemari, di sebuah hotel bintang lima di kawasan elit di Singapura. Malam sudah begitu larut, kami berbincang dan tertawa seperti kawan lama yang sedang reunian. Akhirnya, aku mengeluarkan pertanyaan itu, sesuatu yang selalu ingin aku tanyakan kepadanya sejak kami saling berkirim email.

Don’t you think that I’m a creep? I mean, I emailed you out of nowhere.”

No, I don’t think you’re a creep. I just don’t,” dia menjawab dengan penuh keyakinan. Detik itu, sedikit keraguan dan kecurigaanku terhadapnya yang selama ini membayangiku, hilang sudah. Aku benar-benar mempercayai orang ini, dan aku yakin, kebaikannya tulus.

You know, nobody believed me that you invited me to come to this festival. But I believe that you will do as you said, even though there was a misunderstanding before,” aku mulai bercerita bahwa namaku tidak ada di daftar tamu seperti yang dia janjikan. Aku bersikeras bahwa aku memang diundang dan untungnya, panitia acara kooperatif dan menanyakan kepada kru Tycho mengenai undangan tersebut. Aku bahkan merepotkan salah satu panitia dengan meminjam ponselnya dan menelepon temanku itu.

I’m sorry you have to get through all of this trouble. You see, I don’t know how the guest list works in here,” dia nampak menyesal.

That’s alright,” aku santai saja menanggapinya.

Actually, I already texted you that your wristbands will be on the check in desk in this hotel, but you didn’t seem to get it,” dia membahas mengenai tiket masuk festival yang berbentuk gelang.

The text? No, I didn’t. I don’t have data plan here,” giliran aku yang menyesal. Kesalahpahaman ini tidak akan mungkin terjadi apabila aku membeli kartu SIM lokal dan mengaktifkan paket data internet di ponselku. Namun, semua sudah lewat, dan akhirnya kami bisa bertemu.

Aku teringat saat akhirnya kami bisa bertemu. Saat itu, ketika aku menghubungi ponselnya melalui ponsel salah seorang panitia festival yang baik hati, dia berjanji untuk menemuiku di sebuah tenda dimana sound engineer berada. Pukul setengah delapan malam dia berjanji untuk menemuiku di sana. Aku sendiri tidak yakin sebenarnya, karena Tycho akan tampil pukul sembilan malam, yang artinya dia akan sibuk hingga pertunjukan Tycho berakhir. Namun, aku tetap berjaga di sekeliling tenda putih tersebut, siapa tahu dia akan datang. Namun ternyata, hingga pertunjukan Tycho akan dimulai, dia masih belum muncul juga.

Panggung yang akan digunakan Tycho nampak mulai hidup. Walaupun lampu panggung masih dimatikan, para kru nampak menyiapkan perlengkapan untuk pertunjukan Tycho. Saat itu lokasiku agak jauh dari panggung. Melihat siluet manusia-manusia yang sedang bersiap-siap, aku pun bergerak mendekati panggung. Dan benar saja, aku melihatnya disana, pria tinggi berambut gelap agak ikal itu sedang sibuk menyiapkan banyak hal di atas panggung. Dengan sepatu boots, celana pendek, kaos dan helm dengan senter di depannya, dia lebih nampak seperti penjelajah gua daripada kru dari seorang musisi.

Aku tidak melakukan apa pun, hanya membiarkan dia sibuk dengan pekerjaannya. Hingga akhirnya dia tidak lagi muncul di atas panggung, Tycho mengambil alih dan menghipnotis penonton dengan musik instrumental kombinasi antara digital dan analog. Di beberapa bagian lagu, aku bahkan memejamkan mata dan berasa sedang menyusuri lorong futuristik dan abstrak. Mungkin Tycho bukan salah satu band favoritku, tetapi penampilan mereka sungguh memukau.

Tycho dan pemain musik tambahan turun panggung, penonton berbondong-bondong pindah ke panggung sebelah. Namun aku, tetap bergelayutan di pagar yang memisahkan penonton dengan panggung, menunggu temanku untuk kembali naik panggung untuk beres-beres. Awalnya, dia mondar-mandir membereskan perlengkapan yang berada di panggung bagian belakang, namun kemudian perlahan posisinya semakin mendekati bagian depan panggung. Khawatir suaraku tidak akan mencapainya kalau aku berteriak, aku memanggil bapak sekuriti yang berjaga di samping panggung untuk membantuku memanggilkan temanku. Aku melambaikan tangan, mengisyaratkan dia untuk membantuku memanggil temanku.

Sir, would you call that guy for me, please,” ujarku memohon.

Huh?!

Please call him for me!” Aku mengeraskan suaraku.

Huh?!” Sekali lagi bapak ini bertanya ‘huh?!’ aku akan menyerah.

That guy, call him, please,” kataku lebih keras. Ini entah orang ini tidak paham Bahasa Inggris atau telinganya tidak mendengar apa yang aku ucapkan. Kemungkinan dia kurang bisa menangkap apa yang aku katakan karena suaraku tenggelam oleh dentuman musik dari panggung sebelah.

Si bapak sekuriti tetap tidak paham permintaanku, walaupun aku sudah melengkapi ucapanku dengan gestur menunjuk temanku yang sedang beres-beres di atas panggung. Hampir saja aku menyerah, temanku tiba-tiba berbalik ke arahku dan senyumnya mengembang lebar. Aku menyambutnya dengan lambaian tangan dengan penuh semangat. Bapak sekuriti nampak bingung dan mundur teratur, kembali ke posisinya semula.

Temanku mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Kini, giliran aku yang mengeluarkan kata ‘huh?!’ sambil mengernyitkan dahi. Lalu, dengan langkah panjang-panjang, dia mendekatiku dari atas panggung dan langsung menubrukku dengan pelukan hangat.

It’s really nice to meet you!” Suaranya terdengar begitu riang.

Nice to see you too!” Aku menepuk-nepuk punggungnya.

Ketika akhirnya dia melepas pelukannya, dia berjanji untuk menemuiku di pintu masuk artis di dekat panggung pukul setengah sebelas, yang artinya, empat puluh lima menit dari waktu kami bertemu di depan panggung.

Dalam waktu yang tersisa, aku memilih untuk menikmati musisi yang sedang tampil di atas panggung. Sebenarnya, secara umum, genre musik yang ditampilkan di festival ini adalah bukan seleraku. Mereka lebih banyak menampilkan hiphop dan musik elektronik di sini, walaupun sepertinya ada juga band rock yang menjadi bagian dari line up festival. Tapi biarlah, aku tidak ambil pusing, karena tujuanku ke sini adalah bertemu temanku.

Sekitar pukul setengah sebelas malam, aku beranjak dari depan panggung dan menuju ke arah pintu masuk artis di samping panggung. Tidak lama aku berada di sana, sesosok pria jangkung terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu. Walaupun saat itu keadaan minim cahaya, tetapi aku tahu siapa orang itu. Maka aku pun menghampirinya dengan senyum mengembang. Pria itu, dengan senyum yang sama lebarnya, menyambutku dengan pelukan hangat. Posisi kami agak kikuk, karena akhirnya aku menyadari perbedaan tinggi badan kami.

Well, this is awkward,” kataku sambil mendongak. Tinggiku yang hanya seratus lima puluh empat senti jauh berada di bawahnya yang memiliki tinggi badan lebih dari seratus sembilan puluh senti. Dia tergelak dan mengajakku mencari tempat duduk. Selain karena perbedaan tinggi badan yang terlalu jauh membuat leher kami pegal kalau mengobrol sambil berdiri, musik yang mengentak dari panggung di dekat kami juga menenggelamkan suara kami. Maka kami menjauh dari panggung dan duduk di salah satu bangku kayu yang berada di antara tenda-tenda penjual makanan.

Kami saling bercerita mengenai banyak hal. Benar-benar seperti sedang bertemu dengan teman lama. Dan, topik utama obrolan kami, tidak lain tidak bukan, adalah Dr. Dog, band yang begitu kami puja. Hanya saja, dia lebih beruntung karena bisa menjadi bagian dari kru Dr. Dog selama beberapa lama, sedangkan aku, hanya bisa menikmati musiknya lewat internet. Tanpa pikir panjang, dia dengan santainya mengundangku untuk menonton gig Dr. Dog di Amerika Serikat, soal visa atau tiket gig, dengan senang hati dia akan membantu. Namun, tetap saja, aku harus memutar otak bagaimana caranya aku bisa sampai di sana. Aku harus benar-benar menabung untuk bisa kesana.

Aku masih tenggelam dalam pikiranku soal undangan yang menggiurkan itu ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melihat ponselnya dan ekspresinya berubah mendung.

Ugh, I gotta go and bring the gears back to the hotel. Umm…if it’s alright with you, we can hang out at my hotel. But if it’s not, well I guess that’s it then,” wajahnya tampak kecewa.

Where are you staying?

Dia hanya menunjuk ke arah Marina Bay Sands, hotel megah yang juga menjadi ikon negara Singapura. Festival ini diadakan di Gardens by the Bay, wajar saja apabila para penampil dan kru yang ambil bagian dalam festival ini menginap di hotel semegah itu.

You’re staying at Marina Bay Sands?!” Mataku membulat tidak percaya.

Huh? No! I guess it’s around there, behind that hotel. I don’t know how you get there but here’s the address,” dia tergelak sambil menunjukkan alamat hotel yang dia catat dalam ponselnya. Pan Pacific Hotel. Hotel bintang lima.

Well, I’d love to come, but the train service will end at around twelve, if I come and visit you, I might not be able to get back to my hostel tonight. If it’s alright with you, I need a place to crash for tonight,” aku berkata ragu-ragu. Sebagian dari diriku merasa tidak enak kalau harus menumpang, sedangkan sebagian lainnya merasa sayang apabila pertemuan kami harus diakhiri secepat ini, aku sudah datang jauh-jauh kemari.

You can stay at my place!” Ekspresinya kembali ceria. Tidak ada gurat keberatan sedikit pun di wajahnya. Orang ini benar-benar baik hati.

Setelah kami saling melambaikan tangan dan berpisah, dia kembali ke hotel dengan menggunakan mobil, sedangkan aku bersantai sebentar sambil menikmati siapapun itu yang sedang tampil di atas panggung. Tidak berapa lama kemudian, aku menyusul, bersiap menuju hotelnya, dengan berjalan kaki. Aku kira jarak antara lokasi festival ini dengan hotel Pan Pacific dekat, ternyata cukup jauh juga. Kakiku sampai pegal.

Begitulah, ketika akhirnya aku sampai di hotelnya, aku lebih memilih untuk duduk berselonjor di lantai berlapis karpet sambil bersandar pada tempat tidur. Kami kembali berbincang dengan asyik, membahas kota-kota yang dia kunjungi sebelumnya hingga akhirnya, lagi-lagi kami membahas band menakjubkan kegemaran kami, Dr. Dog.

So, how did you end up being Dr. Dog’s tour manager?” Tanyaku penasaran.

I guess it’s just meant to be,” jawabnya sambil mengedikkan bahu. Kemudian dia menceritakan bahwa awalnya dia suka dengan Dr. Dog, kemudian entah bagaimana, dia mengenal orang yang kenal dengan Dr. Dog dan akhirnya dia menjadi manajer tur dari Dr. Dog.

Begitulah adanya. Memang, banyak hal yang terjadi seperti sudah digariskan. Terkadang, aku pun mengalami hal-hal seperti itu. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba sesuatu yang diluar nalar terjadi kepadaku. Seperti saat ini, siapa yang menyangka, aku akan bisa bertemu dengan orang yang aku kenal secara virtual, bahkan bisa menonton festival musik dengan gratis.

Then, why did you leave and be with Tycho instead?

I need to make more money.

Jawaban yang sungguh sederhana dan realistis. Namun, pilihan sederhana yang diambilnya ternyata tidak hanya mempengaruhi jalan hidupnya, pilihan itu juga mempengaruhi jalan hidupku. Kalau saja dia masih bersama Dr. Dog hingga saat ini, mungkin kami tidak akan pernah bertemu, karena Dr. Dog tidak pernah tur keliling dunia, mereka hanya tur di Amerika Serikat saja. Tetapi dia akhirnya bekerja dengan Tycho yang ternyata diundang ke festival musik di Singapura.

Sama juga denganku, apabila aku tidak berangkat ke Singapura pada tahun sebelumnya, mungkin saat ini aku tidak akan punya keberanian untuk kembali ke Singapura, dan kami pun tidak pernah akan bertemu. Aku rasa, takdir memang punya jalannya sendiri. It’s just meant to be.

Singapura, 21 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s