Haw Par Villa: Warna-warni yang Muram

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku, bahwa sebuah taman rekreasi bisa memiliki ikatan yang begitu erat dengan balsem. Benar, balsem. Krim penghilang rasa sakit berlambang harimau ini menjadi ikon dari taman rekreasi yang bernama Haw Par Villa, atau banyak orang yang menyebutnya dengan Tiger Balm Garden.

Menurut sumber yang kubaca di internet, Tiger Balm Garden dibangun oleh dua bersaudara Aw Boon Haw dan Aw Boon Par, yang merupakan pendiri merk balsem ternama, Tiger Balm. Taman ini dibangun untuk mengajarkan nilai-nilai kebajikan serta mitologi Cina. Pada tahun delapanpuluhan hingga awal sembilanpuluhan, taman ini menjadi salah satu atraksi populer di Singapura. Namun, sekarang, hampir tidak ada orang yang memasukkan Haw Par Villa sebagai tujuan wisata apabila berkunjung ke Singapura. Taman rekreasi ini kalah pamor dengan taman rekreasi yang jauh lebih megah yang ada di Pulau Sentosa.

Aku memutuskan untuk memasukkan Haw Par Villa dalam itinerary-ku di Singapura kali ini dengan alasan yang sangat sederhana, karena masuk kesini tidak dipungut biaya. Jadi, tidak ada salahnya aku mampir sebentar dan melihat-lihat. Berdasarkan rencana yang aku buat, pesawatku akan mendarat sekitar pukul satu siang di Singapura. Lalu, aku bisa mampir ke hostel untuk check in dan meletakkan tas ransel yang berat ini, kemudian melanjutkan untuk berjalan-jalan di Haw Par Villa. Aku rasa dua jam cukup untuk melihat-lihat dan berfoto-foto narsis. Setelahnya, aku masih bisa berjalan-jalan di daerah Little India, yang masih sekitaran hostel tempatku menginap.

Ternyata, rencanaku meleset. Karena aku harus mencari tahu dimana letak stasiun MRT Changi serta mengantre di kantor pembelian EZ-link, aku baru benar-benar keluar dari Bandara Changi sekitar pukul setengah empat sore dan perjalanan menuju hostel yang berada di area Farrer Park menggunakan MRT adalah hampir satu jam. Sekitar pukul setengah lima sore, aku langsung menuju Haw Par Villa. Menurut informasi yang aku dapatkan, Haw Par Villa tutup pukul tujuh malam. Itu artinya aku harus cepat-cepat berangkat. Semoga masih diperbolehkan masuk.

Haw Par Villa letaknya sangat dekat dengan stasiun MRT Haw Par Villa. Mungkin, tujuan dibangunnya stasiun MRT disini adalah untuk menghidupkan kembali taman rekreasi Haw Par Villa yang tidak lagi diminati. Baru saja keluar dari stasiun MRT, tinggal tengok ke kanan, Tulisan Haw Par Villa berukuran besar sudah nampak berderet berada di tebing buatan berwarna merah bata. Namun, hal pertama yang aku amati sebelum menemukan tulisan Haw Par Villa itu adalah deretan crane petikemas yang berada di seberang jalan. Belakangan aku baru tahu, bahwa, di dekat situ adalah Terminal Pasir Panjang milik PSA (Port Service Authority) Singapura. Yah, bekerja di bidang pelayaran dan petikemas membuatku peka akan hal-hal seperti ini.

Taman rekreasi ini terlihat begitu menarik, dengan warna-warna cerah yang memanjakan mata. Belum saja aku memasuki gerbangnya, aku sudah beberapa kali mengambil gambar patung-patung yang berada di sekitar gerbang. Di pagar bagian samping, terlihat beberapa pekerja sedang menyemprotkan air bertekanan tinggi di seluruh bagian pagar. Mereka sepertinya sedang membersihkan pagar taman ini.

Aku celingak-celinguk di depan pintu gerbang. Tempat ini begitu sepi, hanya ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan pagar serta pekerja lain yang berlalu-lalang keluar masuk gerbang. Agak ragu untuk masuk sebenarnya, karena tidak nampak orang lain yang terlihat seperti turis di sekitar sini. Namun, melihat gerbang yang terbuka, aku putuskan untuk masuk. Toh, sudah sampai di sini juga.

Ketika memasuki pintu gerbang, aku akhirnya sadar apa yang sedang terjadi. Haw Par Villa sedang dalam proses renovasi. Hal ini menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja bersepatu boot dan mengenakan helm proyek yang berseliweran. Beberapa patung bahkan dipagari karena akan di cat ulang. Sayang sekali, “The Ten Courts of Hell” yang dianggap sebagai eksibisi paling menyeramkan namun unik sedang ditutup karena renovasi. Mungkin, suatu saat nanti, ketika Haw Par Villa sudah benar-benar selesai direnovasi, aku akan kembali berkunjung dan melihat keseluruhan eksibisi yang ditampilkan.

Walaupun beberapa bagian ditutup untuk pemugaran, tetapi tidak mengurangi kebahagiaanku dalam mengambil gambar. Suasana yang sepi membuatku begitu leluasa untuk berkeliling dan mengambil gambar. Melewati pintu gerbang ala Tiongkok dan disambut oleh patung-patung yang juga bernuansa Tiongkok, membuatku merasa masuk ke dalam cerita mitologi Tiongkok.

img_20170120_172858

Diorama cerita rakyat Tiongkok

Aku yang senang dengan keleluasaan ini, berlari kesana kemari sambil memotret dengan kamera ponsel. Secara umum, Haw Par Villa berisi diorama mengenai mitologi Cina, patung-patung yang ada tampak begitu berwarna-warni serta memiliki ekspresi yang begitu hidup. Salah satu mitologi yang paling dikenal mungkin “Journey of the West”, cerita mengenai kera sakti yang menemani Biksu Tong melakukan perjalanan ke Barat demi mencari kitab suci. Adegan demi adegan menunjukkan alur cerita perjalanan Sang Biksu dalam mencari kitab suci. Sebagian diorama memiliki warna yang begitu cerah karena baru selesai dicat, sedangkan sebagian lain nampak kusam, menunggu untuk dicat ulang.

Meskipun patung-patung yang ditampilkan merupakan potongan adegan mitologi Cina kuno, apabila jeli, maka bisa ditemukan patung yang tidak pada tempatnya. Misalnya saja, ketika aku sedang mengamati adegan kera sakti sedang disidang. Di antara monyet-monyet lain yang menonton, ada seekor monyet dengan pakaian modern sedang menenteng sebuah kamera. Ini kan mitologi Cina, kenapa bisa ada monyet berpakaian ala masa kini dan membawa kamera? Hal kecil seperti ini membuatku tergelak. Sebenarnya, aku sudah berniat mengambil gambar keanehan ini, namun posisi diorama yang agak tinggi membuatku susah dalam mengambil gambar. Akhirnya, aku menyerah, dan memilih untuk merekam anomali ini dalam kepalaku saja.

Aku rasa, taman ria ini dibuat dengan humor, lebih tepatnya dark humor. Karena, walaupun diorama yang ditampilkan kadang menggambarkan adegan yang menyeramkan, warna-warna yang diaplikasikan begitu cerah dan ceria, menganulir kesan seram yang seharusnya muncul. Ekspresi patung-patungnya juga nampak begitu hidup, membuatku bisa ikut merasakan emosi dari masing-masing patung.

Semakin masuk ke dalam taman, aku makin merasa terjebak dalam dunia dongeng. Ditambah dengan tidak adanya pengunjung lain, lama-lama horor juga berada di sini. Aku beristirahat sejenak di salah satu bangku yang banyak tersebar di berbagai sudut taman. Angin sore hari mendinginkan kulitku. Singapura mendung sore ini. Aku melirik ponselku yang sudah mengikuti waktu setempat. Waktu semakin mendekati pukul enam sore, liburanku di Singapura baru saja dimulai.

Entah kenapa, walaupun warna-warna patung yang ada di sini terlihat begitu ceria, aku merasa suasananya agak muram. Mungkin karena tidak ada orang yang datang berkunjung, patung-patung di sini nampak kesepian. Aku bisa membayangkan, ketika masa kejayaannya dahulu, patung-patung di sini ikut merasakan kebahagiaan dari pengunjung-pengunjung yang tersenyum bahagia melihat diorama yang ditampilkan. Namun, seperti apa pun yang pernah berjaya, waktu akan menggerus kejayaan itu dan makin lama, bahkan sisanya pun tak nampak lagi. Apabila diteruskan, suatu saat, Haw Par Villa pun bisa jadi hanya tinggal nama dan catatan sejarah saja.

img_20170120_172219

Bekas loket masuk yang tak terpakai

Aku melihat bahwa pemerintah Singapura berusaha keras untuk menghidupkan kembali Haw Par Villa. Dahulu, ketika taman ini masih menjadi primadona, banyak pertunjukan seni digelar di sini, serta diberlakukan sistem tiket masuk bagi yang ingin mengunjunginya. Sekarang, tempat yang dulunya difungsikan sebagai loket masuk, ditutup dan dibiarkan begitu saja. Di dekat pintu masuk, juga bisa ditemukan semacam papan informasi yang memajang foto-foto kegiatan yang dilakukan di kawasan taman rekreasi. Sepertinya, komunitas-komunitas tertentu atau murid sekolah sering mengadakan kegiatan di sini. Aku membayangkan, ketika masa kejayaannya dahulu, pasti penuh dengan berbagai jenis manusia yang dengan begitu tertariknya mengunjungi masing-masing diorama yang ada di sini. Namun sekarang, selain aku dan adikku yang sedang berkunjung, manusia yang ada di sini adalah para pekerja yang bertanggung jawab akan renovasi taman rekreasi ini.

Aku beranjak dari bangku dan melanjutkan perjalanan. Taman ini dibangun di tanah yang berbukit-bukit. Di bagian atas taman ini, terdapat semacam tugu untuk mengingat kedua orang tua dari Aw Boon Par dan Aw Boon Haw, pada tugu tersebut tertulis “In Ever Loving Memory of Mr. & Mrs. Aw Chu Kin”. Aku hanya terpaku memandangi tugu itu. Sebuah persembahan dari anak untuk kedua orang tuanya. Aku jadi teringat dengan ibuku yang berada di rumah. Ayahku sedang bekerja di luar pulau, sedangkan aku dan adikku melancong ke Singapura selama empat hari, otomatis ibuku sendirian berada di rumah. Di sini, ribuan kilometer dari rumah, aku menemukan sesuatu yang mengingatkanku akan rumah. Belum juga dua puluh empat jam aku meninggalkan rumah, aku sudah merindukan ibuku.

img_20170120_173837

Monumen persembahan untuk Mr & Mrs Aw Chu Kin

Monumen ini nampaknya berada di titik tertinggi dari Haw Par Villa. Dari sini, angin berhembus lumayan kencang, dan bagian atas dari crane petikemas nampak jelas berjajar di kejauhan, nampaknya sedang tidak bekerja, karena tidak nampak ada kapal kargo yang sedang sandar di sana. Di hadapanku, terdapat patung Buddha yang begitu besar dan menghadap ke laut. Suasana begitu damai di sini, dengan tidak adanya pengunjung lain, aku merasakan kedamaian sekaligus paranoia. Damai karena suasana yang behitu hening, namun aku juga merasakan paranoia, khawatir karena dianggap tidak ada orang di dalam, gerbang masuk bisa saja ditutup. Aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa ini belum pukul tujuh malam dan pekerja yang masih lalu lalang membuktikan bahwa tempat ini masih buka.

img_20170120_173804_edit

Jajaran crane petikemas di kejauhan

Setelah puas melihat-lihat dan mengambil gambar, aku akhirnya menuju pintu keluar. Sedikit kepanikan muncul ketika aku melihat gerbangnya sudah ditutup. Namun, ternyata ada celah kecil yang terbuka yang bisa aku lewati. Aku menghela napas lega. Segera setelah aku melewati pintu itu, seorang wanita kaukasia berjalan menuju pintu masuk yang segera dihalangi oleh seseorang yang berada di dekat pintu. Dari percakapan yang aku dengar, sang wanita ingin masuk namun penjaga di dekat pintu menghalanginya dan mengatakan bahwa ini sudah waktunya tutup. Si wanita bersikukuh untuk masuk karena dia tahu waktu tutupnya adalah pukul tujuh malam sedangkan ini masih pukul enam. Tetapi, si penjaga tidak mengijinkankannya masuk karena taman rekreasi sudah ditutup. Tunggu dulu. Penjaga? Aku tidak melihat ada penjaga ketika aku masuk tadi, muncul darimana bapak ini? Sudahlah, sekarang waktunya pergi dari sini. Liburanku baru saja dimulai dan banyak tempat lain yang ingin aku kunjungi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s