Singapura di Musim Hujan (2)

Hari-1: Jumat, 20 Januari 2017

Tempat yang dikunjungi: Haw Par Villa, Pulau Sentosa, Little India

Pesawat saya mendarat di Singapura lebih awal dari yang direncanakan. Namun bukan berarti liburan saya juga dimulai lebih awal. Entah kenapa, saya lupa dimana stasiun MRT Changi, dan harus mencari tahu di internet. Karena saya tidak membekali ponsel saya dengan kartu SIM setempat, saya hanya bisa memanfaatkan wifi bandara. Setelah akhirnya saya bisa menemukan posisi stasiun MRT Changi, saya langsung mencari loket penjualan kartu EZ-link (harga SGD 12, SGD 5 harga kartu, SGD 7 saldo awal). Kartu ini berguna sebagai pembayaran MRT kereta atau bus, tinggal tap-in dan tap-out, saldo otomatis berkurang sesuai dengan tarif perjalanan. Sebenarnya ada pilihan lain untuk pembayaran MRT, yaitu STP atau Singapore Tourist Pass, dengan harga SGD 30, bisa menggunakan bus atau kereta sesuka hati selama tiga hari.

Tetapi, menurut saya, EZ-link tetap lebih ekonomis, walaupun SGD 5 sebagai harga kartu tidak bisa dikembalikan , tetapi masa berlaku kartu yang selama lima tahun lebih praktis. Kalau suatu saat saya ingin ke Singapura lagi, tinggal top-up saldonya, saya sudah bisa jalan-jalan kemana pun saya suka tanpa batas waktu. Namun, apabila banyak waktu yang dihabiskan untuk menggunakan MRT serta tempat yang dikunjungi lokasinya berjauhan, STP bisa jadi lebih hemat.

Loket penjualan EZ-Link akhirnya ditemukan. Sayangnya, antrian di depan loket panjang mengular, membuat saya jadi mendadak lemas. Berapa lama lagi waktu yang harus terbuang, sementara jadwal padat menunggu? Saya sudah tidak sabar ingin segera memulai liburan saya. Sempat terpikir untuk membeli tiket one-way lalu baru membeli EZ-Link di stasiun lain. Tetapi saya urungkan niat itu dan tetap patuh mengantre di depan loket penjualan di stasiun Changi. Hingga akhirnya saya mendapatkan kartu sakti tersebut, saya langsung top-up SGD 10 dan melesat masuk ke dalam stasiun. Tujuan pertama: Mori Hostel untuk check in dan meletakkan ransel.

Bisa dibilang perjalanan dari Bandara Changi menuju stasiun MRT Farrer Park di dekat hostel tempat saya menginap adalah perjalanan menggunakan MRT terpanjang karena memakan waktu hampir satu jam. Setelah sampai di stasiun, saya harus berjalan kaki sekitar 500 meter menuju Mori Hostel, tempat saya akan menginap. Sore itu, langit Singapura cukup mendung, saya harap tidak akan turun hujan dalam waktu dekat karena tempat yang akan saya kunjungi, Haw Par Villa, adalah sebuah taman rekreasi di area terbuka yang berisi patung-patung yang menggambarkan mitologi Tiongkok.

Setelah saya check in dan meletakkan barang-barang yang tidak diperlukan di dalam kamar hostel, saya segera beranjak kembali menuju stasiun MRT Farrer Park untuk melanjutkan perjalanan menuju Haw Par Villa. Waktu tempuhnya tidak begitu lama, mungkin tidak sampai sepuluh menit. Saya lihat, tidak banyak orang yang turun di Stasiun Haw Par Villa. Wajar saja, selain Haw Par Villa, tidak ada lagi yang bisa dilihat disini, hanya kompleks perumahan serta pelabuhan petikemas milik pemerintah. Haw Par Villa pun tidak banyak dikunjungi. Mungkin saja, hanya saya dan adik saya yang sedang berjalan-jalan di sini. Tidak apa-apa, justru lebih menyenangkan begini, bisa narsis sepuas hati.

img_20170120_172430

Gerbang masuk Haw Par Villa

Haw Par Villa adalah taman rekreasi berkonsep hiburan dan edukasi, dengan latar belakang mitologi dan kebudayaan Tiongkok. Di sini, mitologi Tiongkok digambarkan melalui adegan-adegan yang diwakili oleh patung-patung kaya warna serta penuh ekspresi. Di depan diorama tersebut, disediakan penjelasan dengan beberapa bahasa. Sayang sekali, ketika saya kesana, beberapa patung sedang dicat ulang sehingga saya tidak bisa menikmatinya dengan utuh. Bahkan, eksibisi yang paling sering dibicarakan, “The Ten Courts of Hell”, ditutup untuk renovasi. Eksibisi ini menggambarkan keadaan manusia setelah mati, dimana manusia akan melewati sepuluh tahapan hukuman atas dosa-dosa yang diperbuat selama masih hidup. Setelah seluruh tahapan dilalui, maka manusia tersebut akan menjalani reinkarnasi dan kembali terlahir di dunia. Banyak yang bilang kalau patung-patung yang ada di eksibisi ini terlihat menyeramkan karena dibuat dengan detail yang sangat mendekati aslinya. Hukuman-hukuman yang ditampilkan juga tampak nyata. Apabila tidak biasa dengan tampilan darah dan penyiksaan yang terlalu frontal, bisa jadi perut mual ketika keluar dari eksibisi itu.

img_20170120_174700

Kera sakti melawan NaCha

Walaupun ada beberapa bagian yang sedang direnovasi, saya tetap menikmati kunjungan saya di Haw Par Villa. Mitologi-mitologi Tiongkok yang ditampilkan juga begitu menarik Namun, ada satu hal yang saya masih belum pahami sampai sekarang. Apabila fokus utama tempat wisata ini adalah mitologi Tiongkok, mengapa ada replika dari patung Liberty serta patung pegulat sumo disini? Bukankah mereka dari negara yang berbeda?

img_20170120_175902

Patung Liberty di tengah taman bernuansa oriental

Saya keluar dari gerbang tepat saat waktunya tutup. Ketika ada seseorang yang ingin masuk setelah saya keluar, penjaga taman pun melarangnya. Beruntung saya tidak terlambat datang tadi, saya jadi bisa sejenak tersedot dalam dunia mitologi Tiongkok. Setelah ini, saya akan menikmati keriuhan di salah satu sudut Singapura yang kental akan kebudayaan India, di tempat yang disebut “Little India”.

Apabila ingin menuju Little India dari stasiun MRT Haw Par Villa, saya harus berganti MRT di stasiun Harbourfront. Namun, saya baru ingat, sejak pagi, saya dan adik saya belum makan karena penerbangan kami dari Surabaya adalah penerbangan pagi dan kami tidak sempat sarapan. Bahkan, setelah sampai Singapura pun, saya tidak segera mengajak adik saya untuk makan karena mengejar waktu sebelum Haw Par Villa tutup. Kami hanya sempat makan camilan yang dibawa dari rumah. Dan kini, dia memandang saya dengan wajah memelas karena kelaparan.

Maka, alih-alih pindah jalur setelah sampai di stasiun MRT Harbourfront, saya memutuskan untuk keluar stasiun dan masuk mall Vivo City yang berada satu tempat dengan stasiun ini. Singapura ini, bisa dibilang negara yang dipenuhi shopping mall. Hampir di setiap stasiun MRT yang besar, langsung menyambung dengan mall. Tidak hanya saya yang heran dengan keberadaan mall di Singapura yang begitu banyak, beberapa kenalan saya yang berasal dari luar Singapura pun mengatakan hal yang sama.

Tempat yang saya tuju adalah food court di Vivo City. Waktu menunjukkan sekitar pukul setengah tujuh malam. Food court Vivo City nampak ramai akan orang-orang yang sedang makan malam. Untungnya, masih ada kursi kosong yang bisa ditempati. Setelah duduk, saya pun mengedarkan pandangan, mencari menu makanan yang menarik untuk dicoba. Menu yang dijual disini berasal dari berbagai negara, saya melihat ada masakan Thailand dan Korea yang ditawarkan. Namun akhirnya, mata saya menangkap “Chicken Rice” atau Nasi Ayam Hainan, makanan yang digadang-gadang sebagai makanan nasional negara Singapura, walaupun dari namanya sudah bisa ditebak kalau asal-usul makanan ini adalah dari Tiongkok.

Saya jadi teringat, pertama kali saya ke Singapura tahun sebelumnya, saya bahkan tidak sempat mencicipi nasi ayam khas negara ini. Akhirnya, saya tetap mencari nasi ayam Hainan setelah pulang ke Indonesia karena saking kepinginnya. Sekarang, nasi ayam itu sudah ada di depan mata dan tidak mungkin saya melewatkannya. Walaupun bukan resep otentik, setidaknya keinginan saya untuk mencoba nasi ayam Hainan di Singapura sudah terpenuhi. Adik saya menyetujui apa pun pilihan saya, selama ada nasi, dia akan bertahan hidup.

Setelah perut kenyang, otak sudah mulai bisa diajak kembali berpikir. Waktu sudah mendekati pukul tujuh malam, dan langsung mengunjungi Little India sepertinya bukan pilihan yang tepat, mengingat kami baru saja makan malam, karena awalnya, saya berniat untuk makan malam di kawasan Little India. Sekarang, rencana harus diubah. Karena sudah ada di Vivo City, maka saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sentosa melalui Sentosa Boardwalk.

Sentosa Boardwalk adalah semacam jembatan penyeberangan dari kayu yang dibuat untuk pejalan kaki yang menghubungkan antara mainland dengan Pulau Sentosa. Sisi Singapura bermula di mall Vivo City lantai 1 dan sisi Sentosa berada di dekat Resort World Sentosa. Jangan dikira menyeberang laut membutuhkan usaha ekstra, karena jarak antara Singapura dengan Pulau Sentosa sangat dekat, mungkin hanya sekitar satu kilometer saja. Lagipula Sentosa Boardwalk dilengkapi dengan travelator yang bisa membuat kita tetap bergerak tanpa mengeluarkan tenaga. Di sepanjang jalur penyeberangan, terdapat beberapa tempat semacam balkon untuk melihat-lihat pemandangan sambil beristirahat. Selain itu, ada juga kafe di tengah jalur, dengan atap kayunya yang disinari dengan lampu-lampu kecil laksana bintang. Walaupun bintangnya artifisial, kelip-kelipnya tetap terlihat indah, menemani malam pertama saya di Singapura.

Sebenarnya, harga tiket masuk Pulau Sentosa apabila melewati Sentosa Boardwalk adalah sebesar SGD 1. Namun, saat ini, tiket masuknya digratiskan. Saya tidak tahu kenapa, seingat saya pada tahun sebelumnya juga digratiskan sampai akhir tahun, tetapi ternyata gratis tiket masuk ini berlanjut hingga tahun berikutnya. Lumayan, sedikit mengurangi pengeluaran saya selama disini. Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sentosa, saya tidak merasa sedang memasuki sebuah pulau. Tanahnya berlapis semen, tidak ada pasir putih atau nyiur melambai di sini. Semuanya terasa begitu artifisial. Wajar, Pulau Sentosa adalah pulau buatan yang dibangun sebagai pusat rekreasi keluarga, dengan berbagai wahana permainan dan edukasi, serta kasino. Menurut saya, penyumbang utama kemakmuran pulau ini ada para penjudi yang loyal dalam menghabiskan uang mereka.

Mengunjungi Pulau Sentosa ketika hari sudah gelap, saya sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Semua wahana rekreasi sudah tutup, mungkin ada beberapa atraksi yang dimulai saat malam hari, seperti Wings of Time, misalnya. Namun, dengan alasan menekan budget, saya memilih untuk berjalan-jalan saja mengitari pulau. Maka, saya akan memulai dari bagian pulau yang terjauh.

Pulau Sentosa memiliki transportasi berupa monorail yang akan berhenti di beberapa stasiun: Waterfront Station, Imbiah Station dan Beach Station. Sebenarnya, stasiun pertama dari monorail ini adalah di Vivo City, Sentosa Station. Apabila berangkat dari Sentosa Station, tiketnya seharga SGD 3, yang berlaku sebagai tiket masuk pulau. Namun, apabila masuk melalui Sentosa Boardwalk, naik monorail di dalam Pulau Sentosa adalah gratis. Jadi, saya memutuskan untuk masuk melalui Sentosa Boardwalk, menuju Waterfront Station dan naik monorail menuju Beach Station.

Ketika turun di Beach Station, saya hanya melihat sekilas kembang api dan suara-suara dari pertunjukan spektakuler “Wings of Time”. Saya sudah pernah menontonnya pada tahun sebelumnya, jadi saya memilih tidak menontonnya lagi tahun ini. Adik saya juga tidak terlalu tertarik sepertinya. Maka kami hanya berjalan menuju Palawan Beach dan melihat ada hamparan lapangan berumput dengan beberapa orang yang sedang duduk-duduk, serta lampion dengan beraneka bentuk. Rumput yang terhampar nampak begitu sempurna, dengan warna hijau yang begitu segar serta ukuran yang sama rata. Refleks, saya dan adik saya menyentuh rumput itu. Kemudian kami berdua saling berpandangan dan setuju akan satu hal. Palsu. Rumput itu palsu.

Adik saya memilih untuk duduk di rumput palsu itu dan saya berkeliling melihat lampion-lampion yang sedang dipajang. Saya sempat menengok ke arah laut, penasaran seperti apa bentuk pantainya. Ternyata, hanya berbentuk seperti tebing rendah, kemudian ada air dibawahnya. Bahkan, saya tidak melihat ada deburan ombak. Mungkin karena gelap, atau karena memang tidak ada ombak.

img_20170120_205717

Salah satu lampion yang dipajang di Palawan Beach, Pulau Sentosa

Bosan melihat lampion, saya kembali menghampiri adik saya yang sedang berbaring telentang di atas rumput. Kedua matanya nampak terpejam, mungkin dia sedang tidur. Saya pun duduk di sebelahnya sambil mengelap keringat. Astaga, panas sekali di sini, sama sekali tidak ada angin berhembus. Langit sepertinya mendung, saya juga sekilas melihat kilat di kejauhan. Lagi-lagi saya berharap semoga tidak turun hujan.

Setelah cukup beristirahat, saya mengajak adik saya untuk beranjak, mulai menyusuri pulau dengan berjalan kaki. Tidak banyak yang bisa kami lihat disini, selain karena gelap, waktu sudah malam sehingga tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Kami hanya berjalan melewati taman anggrek buatan menuju patung Merlion yang berukuran jumbo, melewatinya hingga menuju Waterfront Station. Belakangan saya baru tahu setelah melihat peta Pulau Sentosa, kami hanya berjalan-jalan membelah pulau, tidak sampai mengunjungi sisi-sisinya yang lain. Alasan utama adalah karena gelap, apapun yang di depan mata jadi nampak kurang menarik. Ketika sampai di dekat Waterfront Station, kami memutuskan untuk naik monorail kembali menuju mainland karena kami berdua sudah kehilangan minat untuk kembali melewati Sentosa Boardwalk. Toh, naik monorail juga gratis.

Saya tidak tahu sudah pukul berapa ketika saya kembali ke Vivo City. Mungkin sudah sekitar pukul sepuluh malam, karena beberapa gerai sudah mulai tutup. Namun, bagi saya ini masih terlalu pagi kalau harus kembali ke hostel. Maka, saya putuskan untuk menuju Little India untuk sekedar melihat-lihat.

Sebenarnya, menurut peta jalur MRT yang saya comot dari bandara, untuk menuju Little India bisa turun di stasiun Little India. Namun, entah karena sudah lelah atau bagaimana, saya memutuskan untuk kembali turun di stasiun Farrer Park, satu stasiun setelah Little India. Dari situ kami berjalan kaki menuju Serangoon Rd dan terlihatlah lampu-lampu yang meriah terpasang membingkai jalan raya yang sibuk. Saya datang di saat yang tepat, Little India sedang bersolek karena Pongal Festival dirayakan di kawasan ini seminggu sebelumnya. Walaupun perayaan festival telah lewat, namun semaraknya masih terasa.

img_20170120_221407

Lampu-lampu yang berada di sepanjang Serangoon Road

Saya tidak memiliki tujuan pasti saat mengunjungi Little India. Saya hanya ingin melihat-lihat saja. Walaupun saya belum pernah ke India, saya rasa suasananya akan seperti ini, riuh ramai suara orang bercakap-cakap dengan Bahasa Hindi, deretan toko-toko yang menjual macam-macam, masing-masing toko punya cara sendiri dalam menarik pengunjung. Ada yang memutar rekaman suara yang menjelaskan promo apa yang sedang diadakan toko tersebut, ada pula yang memasang tanda harga besar-besar pada masing-masing barang dagangannya. Beberapa tempat makan juga penuh pengunjung, saya kira saya bisa mencium bau kari apabila melewati restoran-restoran yang berjajar itu. Sayangnya, selain hiruk pikuk manusia yang menikmati malam dan melepas lelah sambil bercengkrama dengan teman atau keluarga, saya hampir tidak menangkap aroma masakan India di udara.

Selain toko-toko yang berjajar, di kawasan ini terdapat tempat belanja yang begitu terkenal karena selain harga barang-barangnya yang murah, toko-tokonya juka buka selama dua puluh empat jam. Ya, Mustafa Centre. Jadi, apabila ingin membeli kain sari pada pukul tiga pagi, Mustafa Centre adalah jawabannya. Saya sendiri tidak hobi belanja, jadi saya tidak masuk ke dalam, hanya melihat bagian luarnya saja.

Hari makin malam, dan mata sudah mulai susah diajak kompromi. Maka saya memutuskan untuk kembali ke hostel dan beristirahat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s