Singapura di Musim Hujan (1)

Perjalanan saya ke Singapura awal tahun 2017 hampir tidak direncanakan. Wajar saja, saya sudah pernah ke Singapura bulan April sebelumnya. Namun, sebuah pesan singkat dari seorang kenalan saya di suatu pagi di Bulan November 2016 membuat saya memutuskan untuk kembali ke Singapura tanpa pikir panjang.

Hari itu tak ubahnya seperti hari kerja yang lain, saya melakukan ritual pagi hari sebelum berangkat ke kantor, mandi pagi sambil keramas dan mengeringkan rambut di depan kipas angin karena saya tidak memiliki pengering rambut. Seperti biasa, sambil mengeringkan rambut, saya bermain dengan ponsel saya, entah membaca atau sekadar berselancar di dunia maya. Kemudian, sebuah pesan muncul di ponsel saya. Pesan itu dari kenalan saya, Forrest Reda, mantan manajer tur band favorit saya Dr. Dog yang sekarang menjadi manajer tur Tycho.

Beberapa hari sebelumnya, saya menghubungi Forrest ketika saya tahu kalau Tycho menjadi bagian dari St Jerome’s Laneway Festival, sebuah festival musik tahunan yang diadakan di Australia. Dan Singapura adalah satu-satunya negara Asia yang disinggahi festival ini. Karena tahu kalau dia akan mampir ke Singapura, saya iseng menanyakan kepadanya apakah ada kemungkinan kita bisa bertemu di Singapura. Jawaban yang dia sampaikan sungguh diluar dugaan, Forrest bahkan menawari saya untuk menonton festival itu dengan gratis. Tentu saja, kesempatan seperti ini tidak akan saya lewatkan begitu saja, saya langsung mengiyakan tawarannya. Forrest bahkan memberikan tiket gratis untuk dua orang, saya dan siapapun yang saya ajak.

Euforia saya-akan-menonton-konser-gratis langsung saya tularkan kepada semua orang di sekitar saya. Mulai dari ibu saya yang sangsi apakah tawaran ini betul-betul nyata, mengingat saya dan Forrest sebenarnya bukan teman dekat, kami belum pernah bertemu dan frekuensi kami dalam bertukar pesan juga tidak sering, dia orang yang sibuk, karena Tycho sering konser keliling dunia. Teman-teman saya juga hanya memandang saya dengan tatapan heran, karena tidak menganggap apa yang saya alami ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Tetapi saya percaya kepada Forrest, karena dia pernah mengirimi saya beanie Dr. Dog jauh-jauh dari USA. Maka, saya yakin bahwa apa yang dikatakannya memang benar, saya akan menonton konser gratis serta bertemu dengan teman saya yang berasal dari seberang lautan untuk pertama kalinya.

Setelah euforia itu mereda, mulailah saya berpikir dengan siapa saya harus pergi ke Singapura, karena pergi sendiri tidak akan diijinkan oleh orang tua saya. Walaupun saya sudah pernah ke Singapura sebelumnya, bukan berarti saya boleh berkelana sendirian. Maka, ibu saya pun menyarankan agar saya mengajak adik laki-laki saya. Awalnya, dia menolak untuk ikut bersama saya, namun setelah saya bercerita bahwa rencana ke Singapura ini adalah untuk menonton festival musik serta tambahan iming-iming untuk mengunjungi museum seni setempat, dia akhirnya setuju untuk ikut dengan saya.

Bulan November serta Desember saya habiskan dengan membuat rencana serta mencari tiket pesawat murah. Hampir saja saya putus asa karena harga tiket pesawat Singapura-Surabaya yang hampir dua kali lipat dari harga tiket Surabaya-Singapura. Kalau begini caranya, saya bisa berangkat tetapi tidak bisa kembali. Untung saja, setelah sabar menanti, saya akhirnya menemukan tiket pulang dengan harga yang hampir sama dengan tiket berangkat. Masalah tiket terpecahkan sudah.

Kemudian masalah itinerary. Tidak mungkin saya pergi ke Singapura hanya menonton konser lalu pulang. Maka, saya menyisipkan rencana untuk mengunjungi tempat wisata yang lain ketika saya di Singapura, mengunjungi teman sekaligus jalan-jalan. Sebenarnya agak bingung juga mau pergi kemana saja, karena belum genap setahun yang lalu saya berwisata ke Singapura dengan jadwal yang begitu padat, mengunjungi tempat-tempat wisata yang paling diincar di Singapura.

Akhirnya, setelah riset lewat internet, saya memutuskan itinerary sebagai berikut:

  • Hari pertama: Check in hostel, Haw Par Villa, Little India dan sekitarnya
  • Hari kedua: Singapore Art Museum, Malay Heritage Centre, Laneway Festival @ Gardens by The Bay
  • Hari Ketiga: Pulau Sentosa, tur gratis Singapore Footprints
  • Hari Keempat: Tekka Market, Kuil Hindu dan Buddha di sekitar Race Course Rd, Chinatown

Namun ternyata, banyak yang meleset dari itinerary yang saya rencanakan. Salah satu alasannya adalah hujan yang turun di saat yang tidak tepat. Untungnya, apa yang terjadi saat hari-H ternyata jauh lebih menyenangkan dan penuh kejutan.

Singapura di Musim Hujan (2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s